Hallo para membaca blog berikut adala hasil tugas akhir saya yang berjudul Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah
Penerapan Pendidikan Karakter di
Sekolah
Latar belakang
Pendidikan adalah upaya sadar dan
terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh
berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif dan
berakhlak (berkarakter) mulia (Suyadi mengutip UU No. 20 tahun 2003). Karakter adalah ciri khas yang dimiliki
oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar
pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang
mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu
(Kertajaya dikutip dalam Haryanto, 2012).
Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan pendidikan sangat penting sekali untuk membentuk karakter diri
individu, membentuk ciri khas dari setiap individu, dan pendidikan karakter
membantu setiap individu agar bisa menjadi individu yang bertanggung jawab,
memiliki akhlak yang baik, serta dapat menjadi individu yang berkinerja baik di
kemudian hari.
Hakikat Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter dalam lingkup
pembelajaran di kelas dapat diartikan sebagai upaya merancang dan melakasanakan
suatu strategi pembelajaran yang bertujuan mengembangkan akademik dan membangun
karakter (Siswono, 2013). Pendidikan karakter di Indonesia telah dibahas secara
tuntas oleh Ki Hajar Dewantara dalam kedua karyanya munumentalnya, yaitu Pendidikan
dan Kebudayaan. Pendidikan karakter yang sekarang dibenarkan oleh Kemendiknas
sebenarnya hanya istilah lain dari pendidikan budi pekerti dalam pemikiran Ki
Hajar Dewantara (Ki Hajar Dewantara di kutip dalam Suyadi, 2012).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan
bahwa pendidikan karakter adalah pembelajaran bagi individu agar berkembang
menjadi manusia yang memiliki tanggung jawab, kreatif dan memiliki ciri khas
tersediri di setiap individu.
Pendidikan Karakter di Sekolah
Secara
implisit pendidikan karakter meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan
akhlak mulia perserta didik secara utuh, terpadu, dan sesuai dengan standar
kopentensi kelulusan (Panga, 2013). Dalam Kementerian Pendidikan Nasional
(2011), mengatakan pendidikan karakter berfungsi membangun kehidupan bangsa
yang multikultural, membangun bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, membangun
sikap warganegara yang cinta damai, kreatif, dan mampu hidup berdampingan
dengan harmonis dengan warganegara lainnya.
Strategi Pendidikan Karakter di
Sekolah
Strategi
digunakan untuk mengatur cara agar dapat mencapai tujuan dengan baik. Dalam
konteks pendidikan, strategi dapat dimaknai sebagai perencanaan yang berisi
serangkain kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan (Suyadi,
2012). Cleland (dikutip dalam Panga, 2013), mengatakan strategi pendidikan
berkarakter membentuk kecakapan khusus seperti (a) empati, (b) displin diri, dan
(c) inisiatif, yang akan menghasilkan orang-orang yang sukses di kemudian hari.
Dampak Pendidikan Karakter Terhadap
Akademik di Sekolah
Dampak secara
sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh atau akibat dari setiap pegambilan
keputusan, biasanya dalam pengambilan keputusan dampak memiliki sisi positif
dan sisi negatif. Dari dampak tersebut dapat berpengaruh terhadap daya yang
timbul dari sesuatu yang ikut membentuk watak (Haris, Hasanah, Pratiwi,
Wardiansyah, & Sari, 2014).
Dalam Haris et al. (2014), mengatakan
dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik menunjukan adanya
peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah
yang menerapkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter menunjukan kelas-kelas
secara komprehensif yang terlibat, menunjukan penurunan pada perilaku negatif
siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.
Wawasan Pendidikan Karakter di Sekolah
Pada hakikatnya mengajar tidak hanya
sekedar menyampaikan materi pembelajaran, tetapi dimaknai sebagai proses
pembentukan karakter. Ki Hajar Dewantara (dikutip dalam Suyadi, 2012),
mengatakan “Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing
Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”, yang artinya di awal memberi
teladan di tengah memberi semangat dan akhir memberi dorongan, dapat
diaktualisasikan dalam pembelajaran untuk membentuk karakter perserta didik.
Aktualisasi konsep Ki Hajar Dewantara tersebut dapat diaplikasikan dalam jenjang-jenjang
pendidikan.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan terdapat bagian-bagian dari wawasan pendidikan karakter,
seperti (a) Guru sebagai Fasilitator dalam konteks pendidikan karakter, guru
merupakan semangat dalam pembelajaran.
Guru bukan satu-satunya sebagai sumber ilmu, karena perkembangan ilmu
pengetahuan alam dan teknologi memungkinkan perserta didik memperoleh ilmu dari
berbagai sumber seperti internet, program televisi, gambar, dan audio. Fungsi
guru sebagai fasilitator lebih memungkinkan perserta didik untuk membentuk
karakternya sebagai generasi yang akan datang; (b) dalam Norjanah (2012),
mengatakan siswa sebagai subjek didik dan perserta didik merupakan komponen
penting dalam pendidikan. Komponen ini saling berinteraksi agar mewujudkan
tujuan pendidikan yang diinginkan. Pendidik adalah peranan yang sangat penting
dalam menentukan arah pontensi perserta didik yang akan dikembangkan oleh perserta
didik; dan (c) proses pembelajaran adalah proses pembentukan karakter dalam pendidikan karakter, proses
pembelajaran merupakan transfer of
knowledge dan transfer of values, yakni
internalisasi nilai-nilai karakter ke dalam diri perserta didik (Suyadi, 2012).
Dasar-dasar Pendidikan Karakter di
Sekolah
Dasar-dasar
pendidikan karakter yang dimaksud adalah kemampuan dasar bagi seseorang guru
untuk melakukan tiga hal seperti (a) kemampuan membuka dan menutup pelajaran,
(b) kemampuan menjelaskan pelajaran, dan (c) kemampuan memotivasi perserta didik
agar berani bertanya. Ketiga kemampuan diatas sebaiknya dipraktikan secara
berulang-ulang, sehingga guru terampil menggunakan tiga kemampuan dasar di atas
sebelum memulai pembelajaran (Suyadi, 2012).
Magnesen (dikutip dalam Suyadi, 2012),
mengatakan otak manusia lebih cepat menangkap informasi yang berasal dari
modalitas visual yang bergerak. Pada penelitian Magnesen terdapat dasar-dasar
pembelajarannya, seperti (a) membaca, (b) mendengar, (c) melihat, (d)
mengucapkan, dan (e) melakukan. Berdasarkan penelitian Magnesen, keterampilan dasar
bagi guru harus melibatkan semua aspek belajar perserta didik.
Kesimpulan
Dari semua penjelasan di atas dapat
disimpulkan, bahwa penerapan pendidikan karakter di sekolah sangat penting dan sangat
dibutuhkan, karena dapat membentuk individu menjadi bertanggung jawab, memiliki
nilai yang baik dalam diri individu tersebut, dan dapat membangun karakter di
dalam diri individu tersebut. Pendidikan karakter juga memberikan dampak yang
baik bagi guru maupun siswa-siswi di sekolah, karena dengan pendidikan karakter
individu mendapatkan dampak yang positif terhadap akademik maupun
kepribadiannya, dan guru menjadi bangga
terhadap siswa dan siswinya, karena bisa membanggakan nama sekolah dengan
memiliki akhlak yang baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Haris, M., Hasanah, U., Pratiwi, C.
D., Wardiansyah, B. A., & Sari, P. F. (2014). Pendidikan kepribadian berkarakter: Dampak pendidikan karakter. Di
unduh dari http://www.academia.edu/6968226/MAKALAH_-_Dampak_Pendidikan_Karakter
Haryanto. (2012). Pengertian pendidikan kerakter. Di unduh dari http://www.academia.edu/6968226/MAKALAH_-_Dampak_Pendidikan_Karakter
Kementerian Pendidikan Nasional.
(2011). Panduan: Pelaksanaan pendidikan
karakter. Di unduh dari http://undana.ac.id/jsmallfib_top/LPMPTBUKUDIKTI/4_PANDUAN_PELAKS_PENDIDIKAN_KARAKTER.pdf
Norjanah, S. (2012). Perserta didik sebagai subjek pendidikan. Di
unduh dari http://lembayungsurga.wordpress.com/2012/11/11/peserta-didik-sebagai-subjek-pendidikan/
Panga, M. (2013). Penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran. Di unduh dari http://mahasiswa.ung.ac.id/921411144/home/2013/10/13/penerapan-pendidikan-karakter-dalam-pembelajaran.html
Siswono, T. Y. E. (2013). Implementasi pendidikan karakter dalam
pembelajaran di kelas dan kepribadian berkarakter: Dampak pendidikan karakter. Di
unduh dari http://www.academia.edu/4069289/Implementasi_Pendidikan_Karakter_dalam_Pembelajaran_di_Kelas_dan_Relevansinya_dengan_Kurikulum_2013
Suyadi. (2012). Strategi pembelajaran pendidikan karakter. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar