Selasa, 11 November 2014

TUGAS AKHIR BLOK PENULISAN KARYA ILMIAH

Selasa, 11 November 2014

Hallo para membaca blog berikut adala hasil tugas akhir saya yang berjudul Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah


Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah

Latar belakang
          Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif dan berakhlak (berkarakter) mulia (Suyadi mengutip UU No. 20 tahun 2003). Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya dikutip dalam Haryanto, 2012). 
       Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan pendidikan sangat  penting sekali untuk membentuk karakter diri individu, membentuk ciri khas dari setiap individu, dan pendidikan karakter membantu setiap individu agar bisa menjadi individu yang bertanggung jawab, memiliki akhlak yang baik, serta dapat menjadi individu yang berkinerja baik di kemudian hari.

Hakikat Pendidikan Karakter
     Pendidikan karakter dalam lingkup pembelajaran di kelas dapat diartikan sebagai upaya merancang dan melakasanakan suatu strategi pembelajaran yang bertujuan mengembangkan akademik dan membangun karakter (Siswono, 2013). Pendidikan karakter di Indonesia telah dibahas secara tuntas oleh Ki Hajar Dewantara dalam kedua karyanya munumentalnya, yaitu Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan karakter yang sekarang dibenarkan oleh Kemendiknas sebenarnya hanya istilah lain dari pendidikan budi pekerti dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara (Ki Hajar Dewantara di kutip dalam Suyadi, 2012).
     Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pembelajaran bagi individu agar berkembang menjadi manusia yang memiliki tanggung jawab, kreatif dan memiliki ciri khas tersediri di setiap individu.

Pendidikan Karakter di Sekolah
     Secara implisit pendidikan karakter meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia perserta didik secara utuh, terpadu, dan sesuai dengan standar kopentensi kelulusan (Panga, 2013). Dalam Kementerian Pendidikan Nasional (2011), mengatakan pendidikan karakter berfungsi membangun kehidupan bangsa yang multikultural, membangun bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, membangun sikap warganegara yang cinta damai, kreatif, dan mampu hidup berdampingan dengan harmonis dengan warganegara lainnya.

Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah
     Strategi digunakan untuk mengatur cara agar dapat mencapai tujuan dengan baik. Dalam konteks pendidikan, strategi dapat dimaknai sebagai perencanaan yang berisi serangkain kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan (Suyadi, 2012). Cleland (dikutip dalam Panga, 2013), mengatakan strategi pendidikan berkarakter membentuk kecakapan khusus seperti (a) empati, (b) displin diri, dan (c) inisiatif, yang akan menghasilkan orang-orang yang sukses di kemudian hari.

Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Akademik di Sekolah
     Dampak secara sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh atau akibat dari setiap pegambilan keputusan, biasanya dalam pengambilan keputusan dampak memiliki sisi positif dan sisi negatif. Dari dampak tersebut dapat berpengaruh terhadap daya yang timbul dari sesuatu yang ikut membentuk watak (Haris, Hasanah, Pratiwi, Wardiansyah, & Sari, 2014).
     Dalam Haris et al. (2014), mengatakan dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik menunjukan adanya peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter menunjukan kelas-kelas secara komprehensif yang terlibat, menunjukan penurunan pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Wawasan Pendidikan Karakter di Sekolah
      Pada hakikatnya mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan materi pembelajaran, tetapi dimaknai sebagai proses pembentukan karakter. Ki Hajar Dewantara (dikutip dalam Suyadi, 2012), mengatakan “Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”, yang artinya di awal memberi teladan di tengah memberi semangat dan akhir memberi dorongan, dapat diaktualisasikan dalam pembelajaran untuk membentuk karakter perserta didik. Aktualisasi konsep Ki Hajar Dewantara tersebut dapat diaplikasikan dalam jenjang-jenjang pendidikan.
     Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan  terdapat  bagian-bagian dari wawasan pendidikan karakter, seperti (a) Guru sebagai Fasilitator dalam konteks pendidikan karakter, guru merupakan semangat  dalam pembelajaran. Guru bukan satu-satunya sebagai sumber ilmu, karena perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi memungkinkan perserta didik memperoleh ilmu dari berbagai sumber seperti internet, program televisi, gambar, dan audio. Fungsi guru sebagai fasilitator lebih memungkinkan perserta didik untuk membentuk karakternya sebagai generasi yang akan datang; (b) dalam Norjanah (2012), mengatakan siswa sebagai subjek didik dan perserta didik merupakan komponen penting dalam pendidikan. Komponen ini saling berinteraksi agar mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Pendidik adalah peranan yang sangat penting dalam menentukan arah pontensi perserta didik yang akan dikembangkan oleh perserta didik; dan (c) proses pembelajaran adalah proses pembentukan karakter dalam pendidikan karakter, proses pembelajaran merupakan transfer of knowledge dan transfer of values, yakni internalisasi nilai-nilai karakter ke dalam diri perserta didik (Suyadi, 2012).

Dasar-dasar Pendidikan Karakter di Sekolah
     Dasar-dasar pendidikan karakter yang dimaksud adalah kemampuan dasar bagi seseorang guru untuk melakukan tiga hal seperti (a) kemampuan membuka dan menutup pelajaran, (b) kemampuan menjelaskan pelajaran, dan (c) kemampuan memotivasi perserta didik agar berani bertanya. Ketiga kemampuan diatas sebaiknya dipraktikan secara berulang-ulang, sehingga guru terampil menggunakan tiga kemampuan dasar di atas sebelum memulai pembelajaran (Suyadi, 2012).
     Magnesen (dikutip dalam Suyadi, 2012), mengatakan otak manusia lebih cepat menangkap informasi yang berasal dari modalitas visual yang bergerak. Pada penelitian Magnesen terdapat dasar-dasar pembelajarannya, seperti (a) membaca, (b) mendengar, (c) melihat, (d) mengucapkan, dan (e) melakukan. Berdasarkan penelitian Magnesen, keterampilan dasar bagi guru harus melibatkan semua aspek belajar perserta didik.

Kesimpulan
     Dari semua penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa penerapan pendidikan karakter di sekolah sangat penting dan sangat dibutuhkan, karena dapat membentuk individu menjadi bertanggung jawab, memiliki nilai yang baik dalam diri individu tersebut, dan dapat membangun karakter di dalam diri individu tersebut. Pendidikan karakter juga memberikan dampak yang baik bagi guru maupun siswa-siswi di sekolah, karena dengan pendidikan karakter individu mendapatkan dampak yang positif terhadap akademik maupun kepribadiannya, dan guru  menjadi bangga terhadap siswa dan siswinya, karena bisa membanggakan nama sekolah dengan memiliki  akhlak yang baik.

     









DAFTAR PUSTAKA

Haris, M., Hasanah, U., Pratiwi, C. D., Wardiansyah, B. A., & Sari, P. F. (2014). Pendidikan kepribadian berkarakter: Dampak pendidikan karakter. Di unduh dari http://www.academia.edu/6968226/MAKALAH_-_Dampak_Pendidikan_Karakter
Haryanto. (2012). Pengertian pendidikan kerakter. Di unduh dari http://www.academia.edu/6968226/MAKALAH_-_Dampak_Pendidikan_Karakter
Kementerian Pendidikan Nasional. (2011). Panduan: Pelaksanaan pendidikan karakter. Di unduh dari http://undana.ac.id/jsmallfib_top/LPMPTBUKUDIKTI/4_PANDUAN_PELAKS_PENDIDIKAN_KARAKTER.pdf
Norjanah, S. (2012). Perserta didik sebagai subjek pendidikan. Di unduh dari http://lembayungsurga.wordpress.com/2012/11/11/peserta-didik-sebagai-subjek-pendidikan/
Panga, M. (2013). Penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran. Di unduh dari http://mahasiswa.ung.ac.id/921411144/home/2013/10/13/penerapan-pendidikan-karakter-dalam-pembelajaran.html
Siswono, T. Y. E. (2013). Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas dan kepribadian berkarakter: Dampak pendidikan karakter. Di unduh dari http://www.academia.edu/4069289/Implementasi_Pendidikan_Karakter_dalam_Pembelajaran_di_Kelas_dan_Relevansinya_dengan_Kurikulum_2013

Suyadi. (2012). Strategi pembelajaran pendidikan karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Kamis, 06 November 2014

Level of Heading

Selasa, 04 november 2014

Karya Tulis Level Of Heading 
Judul Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan dalam kehidupan sehari-hari.


Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan dalam Kehidupan Sehari-hari

Asal Mula Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan
     Berdasarkan Arifin dan Tasai (2012) pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No.57, tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan.

 Ejaan yang Disempurnakan
     Berdasarkan Arifin dan Tasai (2012) ejaan yang disempurnakan (EYD) adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambanng itu (pemisahan dan penggabungan dalam suatu bahasa).

Hal-hal yang Dipelajari di dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
     Penulisan huruf.  Dalam belajar bahasa Indonesia, akan mengenal mengenai huruf yaitu huruf abjad yang terdiri dari A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K,L,M,N,O,P,Q,R,S,T,U,V,W,X, dan Z. Tetapi dalam penulisan huruf abjad tersebut ada beberapa penulisan yang tidak sesuai dengan EYD. Dalam Arifin dan Tasai (2012), terdapat contoh  penulisan dalam huruf, seperti (a) b (be), (b) c (se), dan (c) g (ji).
     Lafal singkatan dan kata dalam penulisan huruf. Dalam  Arifin dan Tasai (2012) singkatan kata terkadang masih ragu dengan penggunaan suatu singkatan tersebut. Keraguan tersebut disebabkan oleh pengaruh lafal daerah atau lafal bahasa asing. Terdapat contoh seperti (a) AC (a ce), (b) unesco (u nes ko), dan (c) uncef (yu ni sef).
     Pemakain huruf.  Dalam pemakaian huruf ada dua masalah, yaitu pemakian huruf kapital dan pemakaian huruf miring. Pemakain huruf kapital, biasanya digunaakan pada saat awal kalimat atau memulai kalimat baru (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.(2000). Dalam  Arifin dan Tasai (2012) terdapat contoh seperti (a) pemerintah menjelaskan, “Pulau-pulau terpencil di perbatasan hendaknya mendapat perhatian khusus”, dan (b) presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, mengatakan, “Yang diperlukan oleh bangsa kita saat ini adalah rekonsiliasi nasional”.
     Pemakaian huruf miring. Dalam Arifin dan Tasai (2010) terdapat contoh menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam seperti (a) buku Negarakertagama dikarang oleh Mpu Prapanca, (b) berita itu sudah saya baca dalam surat kabar Angkatan Bersenjata dan Republika, dan (c) ibu  selalu membaca tabloid Nova selama tiga tahun terakhir.
     Penulisan kata dalam penulisan huruf.  Dalam penulisan kata terdapat beberapa bagian ada kata dasar, kata turunan, bentuk ulang, dan gabungan kata. Kata dasar adalah kata dasar yang ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh ibu, percaya, kantor. Kata turunan adalah imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Gabungan kata adalah kata yang mendapat awalan dan akhiran, awalan akhiran atau akhiran itu ditulis seragkai dengan kata yang bersangkutan saja. Dalam  Arifin dan Tasai (2012), terdapat contoh seperti (a) di didik (dididik), (b) di suruh (disuruh), dan (c) ke sampingkan (kesampingkan).
     Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran, bentuk kata turunannya. Setelah diberi contoh bentuk awalan dan akhiran, gabungan kata berikut yang mendapat kata turunan yang harus dituliskan seragkai. Dalam Arifin dan Tasai(2012), terdapat contoh seperti (a) menghancur leburkan (menghancurleburkan), dan (b) pemberi tahuan (pemberitahuan).
     Kata ulang yang ditulis dengan tanda hubung. Terdapat kata ulang yang menggunakan tanda hubung. Pemakaian angka dua untuk menyatakan bentuk perulangan, hendaknya dibatasi tulisan cepat atau pencatatan saja. Dalam Arifin dan Tasai (2012), terdapat contoh kata ulang secara lengkap seperti (a) di-besar2-kan (dibesar-besarkan), (b) me-nulis2 (menulis-nulis), dan (c) gerak gerik (gerak-gerik).
     Penulisan unsur serapan. Dalam hal penulisan unsur serapan menurut parah ahli bahasa Indonesia, sebagian menganggap masih belum stabil dan konsisten. Dikatakan demikian karena penggunaan bahasa Indonesia sering begitu saja menyerap unsur asing tanpa memperhatikan aturan, situasi, dan konsidisi yang ada. Penyerepan unsur asing dikatakan benar dalam bahasa Indonesia dibenarkan, sepanjang: (a) konsep yang terdapat dalam unsur asing itu tidak ada dalam bahasa Indonesia, dan (b) unsur asing itu merupakan istilah teknis sehingga tidak ada yang layak mewakili dalam bahasa Indonesia, akhirnya dibenarkan, diterima, atau dipakai dalam bahasa Indonesia (Inci yang mengkutip Cisca, 2013).
     Kata asing yang diserap oleh bahasa indonesia. Setelah kita mengetahui penjelasan mengenai penulisan unsur serapan, dalam contoh yang ditulis oleh Arifin dan Tasai (2012) seperti (a) system (sistem), (b) technologie (teknologi), dan (c) carier (karier).
     Pemakaian tanda baca.  Berdasarkan Arifin dan Tasai (2012) dalam pemakaian tanda baca dalam ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan terdapat peraturan yang mencakupi (a) tanda titik(.), (b) tanda koma (,), (c) tanda titik koma(;), (d) tanda titik dua(:), (e) tanda hubung, (f) tanda pisah, (g) tanda elipsis, (h) tanda tanya(?), (i) tanda seru(!), (j) tanda kurung, (k) tanda kurung siku, (l) tanda petik, (m) tanda petik, (n) tanda petik tunggal, (o) tanda ulang, (p) tanda garis miring, (q) tanda penyingkat(apostrof).
     Tanda titik (.). Terdapat beberapa prosedur dalam penggunaan tanda titik yaitu: (a) tanda titik dipakai pada akhir singkatan orang, seperti W.S. Rendra merupakan sastrawan tahun 1970-an, (b) tanda titik dipakai pada singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan, seperti rapat pada kesempatan ini dipimpin oleh Dr. Basuki, (c) tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah umum, yang ditulis dengan huruf kecil, seperti s.d. (sampai dengan) dan a.n (atas nama), dan (d) tanda titik digunakan pada angka yang menyatakan jumlah untuk memisahkan ribuan, jutaan, dan seterusnya, seperti tebal buku itu 1.150 halaman.
     Tanda Koma (,). Terdapat kaidah yang mengatur kapan koma digunakan dan kapan tanda koma tidak digunakan, seperti (a) saya menerima hadiah dari paman berupa jam tangan, raket, dan sepatu; (b) dia bukan mahasiswa Jayabaya, melainkan mahasiswaa Atmajaya; (c) apabila, belajar sungguh-sungguh, saudara akan berhasil dalam ujian; (d) jadi, hak asasi di Indonesia sudah benar-benar dilindungi; dan (e) kasihan, dia harus mengikuti lagi ujian akhir semester I tahun depan.
     Tanda Titik Dua(:).  Tanda titik dua dipakai pada deskripsi, seperti perguruan tinggi Nusantara mempunyai tiga jurusan: (a) sekolah tinggi teknik,(b) sekolah tinggi Ekonomi, dan (c) sekolah tinggi Hukum.
Kesimpulan
     Dari semua penjelasan mengenai EYD, kita tahu bahwa menggunakan bahasa Indonesia yang benar adalah baik. Bahasa Indonesia ini sudah memiliki aturan yang telah diresmikan. Sebaiknya gunakan lah bahasa Indonesia yang baik dalam praktik bahasa Indonesia sehari-hari. Jangan mencoba-coba menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baik, karena akan membuat bahasa Indonesia yang kita punya menjadi buruk atau tidak sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E. Z., & Tasai, S. A. (2012). Bahasa Indonesia: Sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian. Tanggerang : Pustaka Mandiri.
Cisca, (2009). Pedoman baku eyd terbaru. Dalam S. Ichi (Ed.). Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Salinan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia: Biro Hukum dan Organisasi Departemen Pendidikan Nasional. Di unduh dari
http://www.google.com
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.(2000). Pedoman umum ejaan bahasa indonesia yang disempurnakan. Jakarta: Penerbit. Di unduh dari http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/pedoman_umum-ejaan_yang_disempurnakan.pdf

 Selamat membaca :)